Mengenai Bahagia
Suatu siang teman mengirimkan deretan kata digrup whatsup, isinya tentang memantaskan diri yang hanya didasari niat untuk membuat kagum sesorang yang disukainya , inti dari deretan kata tersebut adalah tentang keikhlaskan hati dalam memantaskan diri
Aku setuju dengan deretan kata yang dikirim teman itu, bahkan juga merasa tersindiri oleh deretan kata itu ya , mungkin Aku masih harus meluruskan niat, dalam memantaskan diri, yaitu hanya niat untuk ALLAH ( Sang Maha Pencipta ) tapi disisi lain bukankah boleh semangat berubah menjadi lebih baik karena seseorang seperti kebiasan 21 hari yang nantinya membawa kebiasan apalagi yang kita lakukan untuk menjadi baik, mungkin dengan begitu Allah merubah niat untuk kebaikkan diri sendiri, mungkin juga Aku salah tafsir karena aku tau aku orang yang egois, yang kutau hanyalah berjuang dan percaya keajaiban..
Saat aku tau aku masih saja menyimpan rasa ini , aku berusaha memikirikan sebaiknya aku harus melakukan apa demi kebaikanku dan dirimu, aku menjadikannya pelajaran sejenak aku sadar mungkin kau adalah seseorang yang dikirim untuk aku belajar, meski kadang aku lelah sampai kapan rasa yang membuat serba salah ini,
Aku tidak mau dicap menjadi pecundang atau keras hati karena aku tau diriku, aku terbuka dan membuatnya menjadi mudah , aku tidak mau terlalu berusaha menutupinnya kalaupun harus lebih baik aku menjauh, seperti yang terakhir kali hingga akhirnya aku dan kau menjauh lagi. Perasaan ini bukan membelengguku, bukan juga menjadi berlebihan, atau pun beban karena ada masanya aku lupa, lalu membayangkan kebahagian dirimu dan diriku masing-masing sesuai yang sudah ditetapkan, aku juga tidak memaksakan kehendak, meski kadang sesekali aku berharap, ini bukan pelajaran darimu tapi proses untuk kita menyadari satu sama lain, kelak
Aku orang yang mudah goyah bukan berarti aku tidak bertekad, sekuat hati bila itu bulat aku pantang mundur dan mampu menahannya, namun hati punyaku terkadang bandel mungkin itu sebabnya aku melemah,melemahnya diriku juga karena ada pemicu, saat aku baik-baik saja, kau hadir dimimpiku, atau saat aku sudah menjalani hari-hariku kita berpapasan, atau bahkan tanpa ada angin apa-apa perasaan itu bersemi tanpa penyebab, atau saat aku ingin menyudahinnya tapi hatiku tetapi bersemi untukmu. Saat aku dicap menjadi susah move on atau aku menjadi orang yang serba terlambat dari yang orang lain termasuk dirimu yang sudah berkali-kali mencari kebahagian.
Aku juga mencari kebahagianku sendiri, tapi lagi-lagi aku belajar sehingga aku tau diriku sendiri bahwa aku tidak boleh berusaha kerasa mencarinya, aku menyadari bahwa aku hanya harus menikmatinya, buktinya saat tiba-tiba kau menyapa, memberi kabar, sampai bercerita kemudian aku jadi hilang kendali dalam menjaga kebahagianku di saat itu, kebahagianku menjauh, sekalipun akhirnya aku bertahan aku hanya menyiksa hati mempercayai aku pasti bahagia. Sementara aku mengetahui tujuanmu sebenarnya untuk apa tapi aku mengelak jawabannya, dan kaupun tidak memberitahu alasanya untuk apa
Lalu aku putuskan untuk menjauh saja, tapi lagi-lagi aku belajar, bahwa ternyata diriku menyesalinya, bahwa aku lagi-lagi hanya seseorang yang tidak boleh terlalu bertindak lebih meski aku meyakini ini untuk kebahagian aku dan kau, pasti ada hal baik, namun dipertengahan jalan lagi-lagi aku yang menyesalinya dan aku bukan tidak bisa atau terlalu gensi untuk kembali , sementara kalau kau bisa mendatangiku. Aku sudah takut akan penolakkan-penolakkan yang selama ini aku terima bila aku bertindak dahulu, aku tau diri, aku hanya seseorang yang bisa menunggu, atau berharap keajaiban yang disediakan oleh-NYA, bahkan dari waktu ke waktu meski sekarang yang kulakukan hanya diam, merasa bagian diriku juga hanya pelajaran dikehidupanmu. Kemudian aku mau berbicara padamu
Kau sekarang lagi apa?...
Karena sekarang kau jarang aku kepoin ,seriusan. Kalau kode –kode si aku masih sesekali kalau aku lagi melemah dan kalah dengan hati ini. Lagi juga belum tentu dibaca, Aku selalu memimpikan kebahagian untuk mu dan juga aku, masing-masing, kalau kau sudah bahagia, berarti sebentar lagi aku juga bahagia itu doaku.Kau kan yang menyemangati aku untuk menulis, semoga kau membacanya,kalau merindumu aku hanya bisa menulis sekarang tidak berhak lagi bercerita langsung padamu,jadi tengoklah tulisanku dan kita akan terhubung, biarlah tersampaikan melalui huruf-huruf tersusun dan kalau aku pos aku selalu berharap kau jadi salah satu pembaca ku, ( walau untuk sekarang aku menulis tentang perasaan saja ) aku bertekad untuk menjadi terkenal,seperti katamu suatu hari nanti, tentu diserta doa darimu
Lalu kalau kau bertanya aku lagi apa?
Aku sekarang masih memperbaiki kesalahanku, seperti tentang memantaskan diri, dan lainnya mengenai kehidupanku, sakitku, akhirku nanti, aku juga masih mencari jati diriku, hari-hariku sekarang sibuk dengan mencari bahagia yang pas tanpa lagi merasa dipermainkan , meski aku menjalaninya dengan menepi bahkan kesepian. Etss aku memberi tau bukan untuk lebay atau melemah, ya memang inilah nyatanya, tapi ada satu yang buatku semangat saat menulis aku merasa terhubung padamu. Kau juga menjadi salah satu inspirasiku untuk menulis lagi dan lagi.
...
Mengenai bahagiaku sekarang
Lalu bahagimu?
Diary Sya
No comments:
Post a Comment