Wahana
Permainan
Bisakah tangan ini digengam sekali lagi, barangkali kata itu yang mewakili perasanku saat ini,
Saat ini dimana tanganku memang digenggam olehnya, ia hanya
berusaha menenangkanku cuma itu tidak lebih.
Akupun tersadar dari lamunan akan pembicaraan pada diriku sendiri dan menyadari
ternyata aku masih di wahana permainan mengerikan ini , “bang turunin”
teriakku. “ Masa bodo akan image
penakut yang nanti dia pikirkan. Setelah
turun dari wahana itu ,aku kembali
mengingat genggaman tangannya,
“ Ia hanya berusaha menenangkanku cuma itu tidak lebih Sya “kataku dalam hati
Selesai dari permainan, aku berusaha stay cool, tetap saja
itu membuat diriku lucu dihadapannya
karena dia tertawa dan berusaha menenangkanku. Tapi aku malah berpikir lain bahwa itu sangatlah menyedihkan dan membuatku
terlihat lemah. Aku izinkan ia untuk naik wahana itu lagi,
aku tidak mau dia menungguku dalam keadaan seperti ini.
“ ya Ampun Sya sok kuat banget si kamu” kataku mengerutu
dalam hati.
Sambil memandangnya yang terlihat bahagia bermain dan
bercengkrama dengan wanita cantik di sebelahnya. “ Huffft….huffft…( menarik
nafas dalam-dalam).Aku semakin ciut untuk terus merasakan rasa ini terhadapnya.
Aku mengenalnya dari
cerita Uni teman lamaku. Waktu itu Uni ,bercerita tentang teman kecilnya yang membuka
usaha kue , dan Uni mengajakku datang ke sana.
hatiku meletup “entah
,rasa apa ini aku tidak bisa menemukan
jawabannya?” Hanya menyadari bahwa ini sesuatu yang membahagiakan, Aku yang
sedetik lalu masih terbayang-bayang rasa sakit hati seperti menemukan obat, dan
aku yang sedang menata hati, seperti
menemukan potongan terakhir puzzle hatiku. Aku menikmati pertemuan pertama
dengannya. Sikap ramah yang ia tunjukan membuatku bersyukur bisa mengenalnya.
Sederhananya rasa ini lah yang memang menuntunku untuk
menumbuhkannya. Aku ingin bisa bertemu lagi
dengannya. Lalu aku mulai membuat rencana dengan usahaku membuat
situasi-situasi agar bisa lebih kenal dengannya. “ aku tau ini salah…tidak
seharusnya begitu karena dengan caraku ini bisa saja membuatnya menjauh. Ternyata
skenario Allah lebih indah dan mengejutkan beberapa kali aku bertemu dengannya
tanpa harus direncanakan. Aku memutuskan untuk bersabar menunggu kejutan Allah lebih
indah lagi. Dalam hati aku meminta untuk bertemu disituasi yang kemungkinannya
seribu satu yaitu di pernikahan Uni .Iya kejutan itu benar Allah berikan
kepadaku, aku berpapasan dengannya di sana
dia menyapaku dan banyak lagi
kejutan lainnya.
Salah satunya saat ini , saat
dimana bisa bermain bersama denganya di
taman hiburan, kesempatan untuk kenal
lebih dekat lagi, mendengar ceritanya, mengetahui kebiasaannya, mengetahui hal
yang disukai dan tidak disukainya dan masih banyak lagi. Saat itu juga aku
mulai over pede “ Sya mungkin dia juga sama merasakan rasa ini”. hatiku mulai sok kepedean. Terlebih hatiku
mulai melambung tinggi dikala dia
mengucapkan ( “ w orangnya ribet tau”
celetukku, “bagus tu soalnya w orangnya cuek)..hati mana yang tidak senang
bahwasannya mungkin memang benar dia juga memiliki rasa ini. Saat dia
menawarkan untuk membeli es krim, dan mengajakku bermain permainan Timezone
“kaya FTV banget ini “Sorak-sorak ria ku
dalam hati..( ya ampun Sya makin kepedean). Mengajakku duduk mendengar ceritanya
sampai ia bilang “ tidak kerasa ya waktu cepat banget..kalau masih keburu kita
ke pantai, tapii”…”ya Ampun Sya sampai inget sedetail itu waktu satu hari bersamanya
yang menyenangkan. Tapi akupun kembali terbangun dari mimpi indah ku iya diperjalanan pulang aku memang sengaja
menghindarinya ( aneh banget si Sya” mungkin ia berpikir seperti itu ). Maaf
tapi untuk kedua kalinya aku berusaha sadar karena bisa saja memang kamu tidak
memiliki rasa ini terhadapku. Saat kita harus jalan bareng pulang kerumah, dia
tertawa dan juga bilang hal yang sama seperti yang aku ucapakan untuk hari ini
terimakasih rasanya menyenangkan kemudian aku kembali memasuki alam mimpiku (“ Sya Payah” gerutuku sendiri)padahal diriku
sadar kalau tengah bermimpi.
Mimpiku Terus berlanjut sampai hari setelahnya, aku mulai
menggila aku ingin tetap berhubungan dengannya entah itu cuma pesan pertanyaan
yang jelas aku terlalu berlebihan, dia membalasnya biasa saja aku sendiri yang
terbuai, aku sering ikut makan bersama temanku yang lain ketempatnya, teman-temanku
mendukung usahaku bahkan ada yang membantuku, seharusnya aku cepat tersadar,
memang harus ada yang membuat ku
tersadar, ya saat itu teman karib kerjakulah yang menyadarkanku dan
membangunkan aku dari mimpi indah ini
“ Sya semalam aku ngobrol sama dia, dia bilang kamu
kepedean, kamu itu ga seru Sya menurut dia ga ada chemistrynya, dia juga merasa
terganggu sama pesan kamu sya dan bla….blaa..blaa” Kata Tata teman karib
kerjaku
(Sya bangun itulah
kenyataannya)
“ udah Sya ga usah
pikirin dan berharap sama dia lagi”
“ ayo kita ketempatnya kali ini dengan tujuan bener-bener
menghilangkan rasa ini, oke Sya?”kata Tata sembari mengajakku ke tempat
berjualannya
.“Oke” ( “Sya kali ini kamu harus bangun”kata hatiku). Sesampainya
di sana aku berusaha untuk sadar , tapi
apakah bisa secepat itu? , Entahlah aku rasa aku hanya menahannya.
Esok hari aku berusaha untuk membahas rasa ketidak nyamanya
terhadap pesanku lewat BBM maksudku agar dia mau jujur kalau memang
terganggu bilang saja tetapi malah salah
paham , dia bilang agar tidak pernah
menjalin silahturahmi lagi, aku mengalah dan meminta maaf, kita saling meminta
maaf. Aku kembali ke kenyataan, menata
hatiku untuk tidak menumbuhkan rasa ini jangan sampai kembali masuk ke mimpi indah. Awalnya aku bisa
tapi itu hanya sebentar, rasa ini terus
tumbuh yang terpenting diam-diam ,
menguburkan rasa ini dalam-dalam,dan menempatkan diriku menjadi naif
Saat ia menunjukan foto teman wanitanya,bercerita sampai mau
mengenalkannya kepadaku, mengantarkan teman yang baru dikenalnya,aku hanya
berusaha tidak kentar di depannya, ditambah ltidak pernah lagi bercerita banyak
lewat BBM, lebih dari semua yang
membuatku pedih itu tak mengapa aku memang bisa menahannya. Tidak apa-apa
bagiku, aku hanya menjaga rasa ini ,rasa yang menjelma menjadi bunga yang memang sudah terlanjur tumbuh, dikebun bunga yang kurawat terkunci di kedalam
hati. Tapi memang aku harus mengikuti sikapnya yang sekarang agar ia tak lagi
terbebani akan rasaku ini yang masih
terasa. Aku selalu bahagia meski hanya memiliki cerita bersama dia di dalam
mimpi. Oh ya mengapa di cerita ini memakai kata aku,kamu, berbeda dengan yang
sesungguhnya, (w,elo) itu karena dari awal aku ingin dia nyaman dan aku sadar
bahwa mungkin dia menjadi ilfiel akan aku yang membosankan ini, aku ingin
menjadi selamanya terhubung dengannya, ( sekedarnya berharap ini langkah yang
benar agar tidak mengulang kesalahan
yang sama di mas lalu, nyatanya aku kembali mengulangnya menyikapi rasa ini
secara berlebihan di hatiku ) Aku ingin dia nyaman,meski dari jauh-jauh hari
memang dia genggam tanganku tanpa rasa.
“ Sya mulailah mengerti dan sabar
janganlah mengartikan rasa ini terburu-buru, mengertilah bahwa rasa ini akan mencari
jalannya sendiri” mengakhir ceritaku malam ini, kututup buku diary dengan
sebuah harapan.
Diary
Cerita Sya
Jakarta Mei 16
No comments:
Post a Comment