Tuesday, May 10, 2016

Kepada dia




Wahana Permainan



Bisakah tangan ini digengam  sekali lagi, barangkali kata  itu yang mewakili  perasanku saat ini,
Saat ini dimana tanganku memang digenggam olehnya, ia hanya berusaha menenangkanku cuma itu tidak lebih.
Akupun tersadar dari lamunan akan  pembicaraan pada diriku sendiri dan menyadari ternyata aku masih di wahana permainan mengerikan ini , “bang turunin” teriakku. “   Masa bodo akan image penakut yang nanti dia pikirkan.  Setelah turun dari wahana  itu ,aku kembali mengingat genggaman tangannya,
“ Ia hanya berusaha menenangkanku  cuma itu tidak lebih Sya “kataku dalam hati
Selesai dari permainan, aku berusaha stay cool, tetap saja itu membuat diriku  lucu dihadapannya karena dia tertawa dan berusaha menenangkanku. Tapi aku  malah berpikir lain bahwa  itu sangatlah menyedihkan dan membuatku terlihat  lemah.  Aku izinkan ia untuk naik wahana itu lagi, aku tidak mau dia menungguku dalam keadaan seperti ini.
“ ya Ampun Sya sok kuat banget si kamu” kataku mengerutu dalam hati.
Sambil memandangnya yang terlihat bahagia bermain dan bercengkrama dengan wanita cantik di sebelahnya. “ Huffft….huffft…( menarik nafas dalam-dalam).Aku semakin ciut untuk terus merasakan rasa ini terhadapnya.   
 Aku mengenalnya dari cerita Uni teman lamaku. Waktu itu Uni ,bercerita tentang teman kecilnya yang membuka usaha kue , dan Uni mengajakku datang ke sana.
 hatiku meletup “entah ,rasa apa  ini aku tidak bisa menemukan jawabannya?” Hanya menyadari bahwa ini sesuatu yang membahagiakan, Aku yang sedetik lalu masih terbayang-bayang rasa sakit hati seperti menemukan obat, dan aku yang sedang  menata hati, seperti menemukan potongan terakhir puzzle hatiku. Aku menikmati pertemuan pertama dengannya. Sikap ramah yang ia tunjukan membuatku bersyukur bisa mengenalnya.
Sederhananya rasa ini lah yang memang menuntunku untuk menumbuhkannya. Aku ingin  bisa bertemu lagi dengannya. Lalu  aku mulai  membuat rencana dengan usahaku membuat situasi-situasi agar bisa lebih kenal dengannya. “ aku tau ini salah…tidak seharusnya begitu karena dengan caraku ini bisa saja membuatnya menjauh. Ternyata skenario Allah lebih indah dan mengejutkan beberapa kali aku bertemu dengannya tanpa harus direncanakan. Aku memutuskan untuk bersabar menunggu kejutan Allah lebih indah lagi. Dalam hati aku meminta untuk bertemu disituasi yang kemungkinannya seribu satu yaitu di pernikahan Uni .Iya kejutan itu benar Allah berikan kepadaku, aku berpapasan dengannya di sana  dia menyapaku dan  banyak lagi kejutan lainnya.
Salah satunya saat ini , saat dimana  bisa bermain bersama denganya di taman  hiburan, kesempatan untuk kenal lebih dekat lagi, mendengar ceritanya, mengetahui kebiasaannya, mengetahui hal yang disukai dan tidak disukainya dan masih banyak lagi. Saat itu juga aku mulai over pede “ Sya mungkin dia juga sama merasakan rasa ini”.  hatiku mulai sok kepedean. Terlebih hatiku mulai  melambung tinggi dikala dia mengucapkan  ( “ w orangnya ribet tau” celetukku, “bagus tu soalnya w orangnya cuek)..hati mana yang tidak senang bahwasannya mungkin memang benar dia juga memiliki rasa ini. Saat dia menawarkan untuk membeli es krim, dan mengajakku bermain permainan Timezone “kaya FTV banget ini “Sorak-sorak  ria ku dalam hati..( ya ampun Sya makin kepedean). Mengajakku duduk mendengar ceritanya sampai ia bilang “ tidak kerasa ya waktu cepat banget..kalau masih keburu kita ke pantai, tapii”…”ya Ampun Sya sampai inget sedetail itu waktu satu hari bersamanya yang menyenangkan. Tapi akupun kembali terbangun dari mimpi indah ku  iya diperjalanan pulang aku memang sengaja menghindarinya ( aneh banget si Sya” mungkin ia berpikir seperti itu ). Maaf tapi untuk kedua kalinya aku berusaha sadar karena bisa saja memang kamu tidak memiliki rasa ini terhadapku. Saat kita harus jalan bareng pulang kerumah, dia tertawa dan juga bilang hal yang sama seperti yang aku ucapakan untuk hari ini terimakasih rasanya menyenangkan kemudian  aku kembali memasuki alam  mimpiku  (“ Sya Payah” gerutuku sendiri)padahal diriku sadar kalau tengah bermimpi.
Mimpiku Terus berlanjut sampai hari setelahnya, aku mulai menggila aku ingin tetap berhubungan dengannya entah itu cuma pesan pertanyaan yang jelas aku terlalu berlebihan, dia membalasnya biasa saja aku sendiri yang terbuai, aku sering ikut makan bersama temanku yang lain ketempatnya, teman-temanku mendukung usahaku bahkan ada yang membantuku, seharusnya aku cepat tersadar, memang harus ada yang  membuat ku tersadar, ya saat itu teman karib kerjakulah yang menyadarkanku dan membangunkan aku dari  mimpi  indah  ini
“ Sya semalam aku ngobrol sama dia, dia bilang kamu kepedean, kamu itu ga seru Sya menurut dia ga ada chemistrynya, dia juga merasa terganggu sama pesan kamu sya dan bla….blaa..blaa” Kata Tata teman karib kerjaku
 (Sya bangun itulah kenyataannya)
“ udah  Sya ga usah pikirin dan berharap sama dia lagi”
“ ayo kita ketempatnya kali ini dengan tujuan bener-bener menghilangkan rasa ini, oke Sya?”kata Tata sembari mengajakku ke tempat berjualannya
.“Oke” ( “Sya kali ini kamu harus bangun”kata hatiku). Sesampainya di sana  aku berusaha untuk sadar , tapi apakah bisa secepat itu? , Entahlah aku rasa aku hanya menahannya.
Esok hari aku berusaha untuk membahas rasa ketidak nyamanya terhadap pesanku lewat BBM maksudku agar dia mau jujur kalau memang terganggu  bilang saja tetapi malah salah paham ,  dia bilang agar tidak pernah menjalin silahturahmi lagi, aku mengalah dan meminta maaf, kita saling meminta maaf.  Aku kembali ke kenyataan, menata hatiku untuk tidak menumbuhkan rasa ini jangan sampai  kembali masuk ke mimpi indah. Awalnya aku bisa tapi itu hanya sebentar,  rasa ini terus tumbuh yang terpenting  diam-diam , menguburkan rasa ini dalam-dalam,dan menempatkan diriku menjadi naif
Saat ia menunjukan foto teman wanitanya,bercerita sampai mau mengenalkannya kepadaku, mengantarkan teman yang baru dikenalnya,aku hanya berusaha tidak kentar di depannya, ditambah ltidak pernah lagi bercerita banyak lewat BBM,  lebih dari semua yang membuatku pedih itu tak mengapa aku memang bisa menahannya. Tidak apa-apa bagiku, aku hanya menjaga rasa ini ,rasa yang menjelma menjadi bunga yang  memang sudah terlanjur tumbuh,  dikebun bunga yang kurawat terkunci di kedalam hati. Tapi memang aku harus mengikuti sikapnya yang sekarang agar ia tak lagi terbebani akan rasaku ini yang  masih terasa. Aku selalu bahagia meski hanya memiliki cerita bersama dia di dalam mimpi. Oh ya mengapa di cerita ini memakai kata aku,kamu, berbeda dengan yang sesungguhnya, (w,elo) itu karena dari awal aku ingin dia nyaman  dan aku sadar bahwa mungkin dia menjadi ilfiel akan aku yang membosankan ini, aku ingin menjadi selamanya terhubung dengannya, ( sekedarnya berharap ini langkah yang benar agar  tidak mengulang kesalahan yang sama di mas lalu, nyatanya aku kembali mengulangnya menyikapi rasa ini secara berlebihan di hatiku ) Aku ingin dia nyaman,meski dari jauh-jauh hari memang  dia genggam tanganku tanpa rasa.
“ Sya mulailah mengerti dan sabar janganlah mengartikan rasa ini terburu-buru, mengertilah bahwa rasa ini akan mencari jalannya sendiri” mengakhir ceritaku malam ini, kututup buku diary dengan sebuah harapan.

                                                                                                      Diary Cerita Sya
                                                                                                      Jakarta Mei 16



No comments:

Post a Comment